Home » » Mistisisme Dalam Islam

Mistisisme Dalam Islam

Written By Catatan Mpuh on Selasa, 18 Juni 2013 | 09.45

A. PENDAHULUAN
Sifat buruk dapat dihapuskan melalui perbuatan baik, keburukan dapat dihilangkan dengan kebaikan; semua yang kotor dapat dibersihkan dengan sesuatu yang murni. Gagasan jiwa sebagai cermin, mencerminkan gambaran Tuhan dibandingkan dengan kecermelangannya sendiri yang dipakai oleh para sufi Muslim. Gagasan cermin yang berkarat dan kebutuhan menyemirnya itu sangat digandrungi oleh para sufi generasi selanjutnya. Penegasan bahwa hati dan pikiran yang perlu dibersihkan, dan kenyataan bahwa ibadah ritual yang dilakukan dan amal shalih saja dirasakan oleh para sufi belum memadai. Hal inilah yang mendorong mereka para sufi periode awal untuk melakukan meditasi dan perenungan. Kepuasan rohaniah yang yang sejati seperti inilah yang mendorong terbentuknya pemisah yang tegas antara hakikat yang sementara dan abadi, serta pembatasan yang jelas antara kehidupan duniawi dibandingkan dengan kehidupan yang kekal bersama Tuhan.[1] Untuk itu marilah kita kupas pembahasan mengenai mistisisme atau tasawuf secara lebih mendalam.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian
Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).[2]
Mistisisme dalam Islam diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam. Sufisme tidak dipakai untuk mistisisme yang terdapat dalam agama-agama lain. Mistisisme atau tasawuf mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.[3]
Berbicara tentang mistisisme Islam bisa kita dapat hanya jika kita memahami makna orisinil istilah itu, yang berkaitan dengan misteri-misteri Ilahi. Kita harus ingat bahwa diam atau tutup mulut adalah makna dasar kata Yunani muo yang menjadi akar kata mysterion dan mistisisme.[4] Menurut Lorens Bagus mistisisme[5] adalah suatu pendekatan spiritual, dan nondiskurtif kepada persekutuan jiwa dengan Allah, atau apa saja yang dipandang sebagai realitas sentral alam.[6]
Tasawuf adalah sebuah jalan kebenaran dan petunjuk. Sementara asal-usulnya adalah pemusatan diri dalam ibadah, menghambakan diri semata kepada Allah.[7]

2. Tokoh-tokoh Utama
Ada beberapa tokoh tasawuf, yang tidak boleh dilewatkan dalam kajian tasawuf. Mereka adalah (1) Dzû al-Nûn al-Mishrî, (2) Abû Manshûr al-Hallâj, (3) Ibn ‘Arabî, dan (4) Jalâl al-Dîn Rûmî.

a. Dzû al-Nûn al-Mishrî (165-245 H/ 781-859 M)
Ia adalah Imam sepajang masa, sufi fenomenal sepanjang sejarah, dan juga pemuka komunitas Sufi. Ia adalah sufi pertama yang mengungkapkan isyarat (simbol) dengan ibarat (verbal), dan pembuka jalan perbincangan mengenai jalan hidup sufistik.

b. Abû Manshûr al-Hallâj (w. 310 H/922 M)
Dalam sejarah sufi, Ia dikenal sebagai orang yang mengatakan “aku adalah Tuhan,” (anâ al-Haqq). Selama perjalanan pertama hajinya ia tidak beranjak selama satu tahun penuh dari ruang masjid. Para pengunjung yang menyaksikannya ketika ia duduk di terik matahari di atas sebuah batu dengan peluh mengucur di seluruh tubuhnya, lebih terpesona oleh kekerasan tekadnya ketimbang kesalehannya. Ketika ia kembali ke Baghdad ia menjalin sekali lagi persahabatannya dengan al-Junayd, tapi al-Junayd menyalahkan al-Hallâj karena klaimnya sebagai Tuhan. Keretakan dengan al-Junayd sekaligus dengan pemisahan diri al-Hallâj dari tarekat-tarekat sufi yang mapan.

Beliau juga mengembangkan teori al-Hulûl (inkarnasi), di mana persatuan mistik dicapai dengan turunnya Tuhan kepada manusia.

c. Ibn ‘Arabî (w. 637 H/ 1240 M)
Ibn ‘Arabî adalah pemikir dan penulis yang produktif. Hampir tidak ada sufi besar yang tidak mengenal beliau. Ajarannya yang terkenal adalah wahdat al-wujûd yang telah menjadi buah bibir dan bahan perdebatan yang tak pernah berhenti sampai sekarang. Beliau mengatakan bahwa wujud yang sejati hanya satu yaitu Allah, sedangkan wujud selainnya yang disebut alam adalah manifestasi (tajallî) Allah.

d. Jalâl al-Dîn Rûmî
Rûmî adalah seorang tokoh agama terkemuka yang menguasai berbagai disiplin ilmu, dari syari’ah (hukum), teologi sampai ke filsafat dan tasawuf formal. Tetapi ketenaran dan puncak karir intelektual ini bagi Rûmî Sendiri malah sangat tidak memuaskan. Ia tidak menemukan dalam disiplin-disiplin ilmu yang ia kuasai saat itu, sebuah ilmu yang dapat mentransformasikan dirinya ke arah manusia paripurna (insân kâmil).

Menurutnya, baik fiqih maupun teologi tidka berhasil untuk mengubah dirinya karena kecenderungan mereka kepada formalisme. Untunglah muncul sesosok figur misterius yang kemudian dikenal sebagai Syams al-Dîn Tabrîzî. Kemudian ia menjadi tokoh yang telah mengubah Rûmî dari seorang teolog menjadi sufi, dan dari seorang intelektual menjadi “penyair”.[8]

3. Tema-tema Utama Tasawuf

a. Hakikat (Haqîqah)
Para sufi terobsesi terhadap kebenaran yang hakiki. Obsesi terhadap hakikat (realitas absolut) ini tercermin dalam penafsiran mereka terhadap formula “lâ ilâha illa Allâh” yang mereka artikan “tidak ada realitas yang sejati kecuali Allah”. Pernyataan “lâ ilâha illa Allâh” ditafsirkan para sufi sebagai penafikan terhadap eksistensi dari yang selain-Nya, termasuk eksistensi dirinya, sebagai realitas.
Bagi mereka Tuhanlah satu-satunya yang hakiki, dalam arti yang betul-betul ada, ada yang absolut, sedangkan yang lain keberadaannya tidaklah hakiki atau nisbi, dalam arti tergantung keberadaannya pada kemurahan Tuhan.

b. Ma’rifat (Ma’rifah)
Ma’rifat adalah sejenis pengetahuan yang mana para sufi menangkap hakikat atau realitas yang menjadi obsesi mereka. Ma’rifat berbeda dengan jenis pengetahuan yang lain, karena ia menangkap objeknya secara langsung, tidak melalui representasi, citra atau simbol dari objek-objek penelitiannya itu.
Seperti indera menagkap objeknya secara langsung, demikian juga hati atau intuisi menangkap objeknya secara langsung. Perbedaannya terletak pada jenis objeknya. Kalau objek indera adalah benda-benda inderawi, sedangkan objek-objek intuisi adalah entitas-entitas spiritual.
Ma’rifat, seperti yang telah diketahui, berdasarkan pada pengalaman; artinya ia harus dialami, bukan dipelajari. Ma’rifat tidak dapat diraih melalui jalan inderawi, karena menurut Rûmî, itu seperti mencari mutiara yang berada di dasar laut hanya dengan datang dan memandang laut dari darat.

c. Tarekat (Tharîqah)
Seperti syari’at, tarekat (Tharîqah) berarti jalan, hanya saja kalau yang pertama jalan raya (road), maka yang terakhir adalah jalan kecil (path). Tarekat kemudian dipahami sebagai jalan spiritual yang ditempuh seorang sufi.
Selanjutnya, walaupun jalan spiritual itu sendiri objektif, dalam arti betul-betul dialami oleh orang-orang suci di sepanjang zaman, tetapi pengalaman masing-masing sufi dalam menempuh perjalanan tersebut bersifat subjektif. Oleh karena itu wajar, kalau para penulis sufi berbeda, misalnya, dalam menamakan maqam-maqam ataupun urutan-urutannya.

4. Tasawuf dan Tantangan Zaman
a. Disorientasi manusia modern
Pengaruh sains yang besar dalam kehidupan modern, dengan sengaja atau tidak, telah menyebarkan pandangan sekuler tersebut yang sampai masuk ke dalam jantung dan hati manusia modern. Pandangan dunia sekuler yang hanya mementingkan urusan duniawi secara tidak langsung telah menggeser manusia modern dari aspek spiritualitas. Mereka menolak segala dunia non-fisik, seperti dunia imaji atau spiritual, sehingga terputus hubungan dengan segala realitas-realitas yang lebih tinggi. Akibatnya banyak manusia modern yang mengalami krisis spiritual.

Krisis spiritual ini pada gilirannya telah menimbulkan apa yang disebut sebagai “disorientasi” pada manusia modern. Ketika ada kata “orientasi”, ini tentu mengandung makna “memberi arah”, dan dengan demikian orientasi tidak bisa tidak kecuali mengandaikan adanya arah dan tujuan. Kata “disorientasi” yang merupakan negasi dari orientasi, karena itu, akan terjadi ketika kita tidak tahu lagi arah, mau ke mana kita pergi, bahkan juga dari mana kita berasal. Hal inilah yang menjadikan manusia modern mengalami keterputusan spiritual dengan Tuhan, sumber dari segala yang ada.

Bagi para sufi, Tuhan adalah alpha dan omega, asal dan tempat kembali, bagi banyak orang modern, Tuhan hanyalah dipandang sebagai penghalang bagi penyelenggaraan diri mereka, dan kebebasan yang menyertainya. Nietzsche, misalnya, memandang Tuhan sebagai perintang utama bagi terciptanya manusia super (Ubermensch), karena itu lebih baik dibunuh saja. Maka ia berteriak Tuhan telah mati.

Akibat keterputusan ini, maka manusia tidak lagi mengarahkan jiwanya kepada Tuhan yang maha esa, tetapi tertumpu kepada beraneka benda-benda fisik yang tidak pernah memberi mereka kepuasan dan ketenangan. Bagi para sufi, ketenangan dapat dicapai hanya apabila kita telah berada dekat dengan Tuhan. Keterputusan dengan sumber adalah penyebab timbulnya perasaan terasing, gelisah dan sebagainya, sebagaimana yang banyak diderita manusia yang hidup di dunia modern ini.

b. Menuju ke kehadirat Ilahi
Sejak awal tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi pada saat ini kita masih berada jauh dari asal dan tempat kembali kita yang sejati. Kenyataan bahwa manusia selalu merasa gelisah, menunjukkan betapa kita masih jauh dari tujuan, ke mana kita harus pergi.
Tasawuf bukan hanya menyadarkan kita akan keterpisahan dari sumber dan tempat kembali kita yang sejati, tetapi juga sekaligus menjelaskan kepada kita dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali. Dengan demikian, dalam arti tertentu, tasawuf telah memberi kita arah (orientasi) dalam hidup kita.

Lantas dapatkah tasawuf memberi petunjuk arah bagi manusia modern yang telah mengalami disorientasi? Jawabnya, mungkin saja. Ketika manusia modern telah kehilangan identitas dirinya, maka tasawuf dapat memberikan pengertian yang lebih komprehensif tentang siapa manusia itu sesungguhnya. Dari ajaran para sufi, jelas betapa manusia itu bukan hanya makhluk fisik, tetapi juga makhluk spiritual, yang memiliki asal-usul spiritualnya pada Tuhan. 
Dengan begitu, maka lebih mungkin kita akan bertindak lebih bijak dan seimbang dalam memeperlakukan diri kita. Selain itu dengan mengetahui asal-usul kita – baik fisik maupun spiritual – maka kita bisa mengarahkan diri kita secara proporsional baik untuk kesejahteraan hidup di dunia maupun untuk akhirat nanti. Dengan demikian diharapkan tasawuf akan memberikan sedikitnya petunjuk tentang siapa manusia itu sesungguhnya, dan dengan demikian memberi solusi terhadap krisis identitas yang diderita banyak oleh manusia modern.[9]

C. KESIMPULAN
Karena sifatnya yang universal, baik dalam arti ruang maupun waktu, sebuah sistem spiritual, seperti tasawuf, mungkin saja menerima pengaruh dari sistem lain yang ada sebelumnya. Para sufi menggambarkan Tuhan sebagai sebuah prinsip yang menyeluruh dan paripurna. Dari sudut pandang waktu, Dia adalah yang awal dan yang akhir, maksudnya Dialah asal dan tempat kembali segala sesuatu yang ada. Dari sudut pandang ruang, Dia adalah yang lahir dan yang batin, yakni yang imanen dan transenden.

Esensi dari sebuah sistem mistisisme adalah perasaan dekat dengan Tuhan. Perasaan dekat ini dinyatakan dalam perasaan sufi akan kehadiran Tuhan di manapun ia berada. Kehadiran Tuhan ia rasakan baik dalam dirinya maupun di alam yang mengelilinginya.

DAFTAR PUSTAKA
  • Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia. 2005
  • Jaiz, M.H Amien. Masalah Mistik Tasawuf & Kebatinan. Bandung: PT Al-ma'arif. 1980
  • Kartanegara, Mulyadhi. Pengantar Studi Islam. Jakarta: Ushul Press. 2011
  • Nasr, Seyyed Hossein dan Oliver Leaman. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. Bandung: Mizan. 2003
  • Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 2008 Smith, Margareth. Mistisisme Islam & Kristen: Sejarah Awal dan Perkembangannya. Terj. Amroeni Dradjat. Tangerang: Gaya Media Pratama. 2007
Tolong sebarkan di >> :

1 komentar:

Oeya Oeya mengatakan...

Yuk yang suka taruhan bola, gabung di 7meter.
Layanan taruhan bola yang profesional.
Kunjungi hanya ada di Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

Poskan Komentar

- Berkomentarlah Yang Sopan
- Tidak Diperkenankan Memasukan Link Aktif Pada Isi Komentar
- Berkomentarlah Sesuai Dengan Content

 
Support : Copyright © 2011. CATATAN HARIAN DENMPUH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger